Breaking News

Harga Minyak Dunia Naik, Ancaman Serangan AS ke Iran Guncang Pasar Energi

 

Konflik yang melanda Timur Tengah mengakibatkan harga minyak dunia melonjak(photo by radar kediri)

JAKARTA,  – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar merespons ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan kemungkinan akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran apabila tidak tercapai kesepakatan baru dalam perundingan.

Selain ancaman serangan lanjutan, Amerika Serikat juga kembali memberlakukan blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz, salah satu rute distribusi minyak paling strategis di dunia. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global.

Berdasarkan data perdagangan, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,89 dolar AS atau sekitar 1,04 persen menjadi 86,31 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,16 dolar AS atau 1,46 persen ke level 80,51 dolar AS per barel.

Dalam pernyataannya, Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran dapat diperluas, termasuk kemungkinan menyasar infrastruktur penting seperti pembangkit listrik dan jembatan apabila Teheran tetap menolak kembali ke meja perundingan.

Blokade di Selat Hormuz mulai diberlakukan beberapa saat setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah target di Iran. Langkah tersebut diklaim sebagai upaya membatasi kemampuan Iran mengganggu pelayaran kapal-kapal komersial di kawasan tersebut.

Spesialis energi TP ICAP Group Plc, Scott Shelton, menilai kondisi pasar masih dipenuhi ketidakpastian akibat meningkatnya tensi geopolitik.

"Masih banyak ketidakpastian. Apakah kita sedang berada dalam kondisi perang? Apakah AS akan mampu mengendalikan Selat Hormuz dan memungkinkan kapal-kapal selain milik Iran melintas? Hingga hari ini, tidak ada kapal yang bisa melewati jalur itu," ujarnya.

Di tengah meningkatnya konflik, sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk tetap berupaya menjaga ekspor. Uni Emirat Arab (UEA), misalnya, dilaporkan meningkatkan pengiriman minyak dengan memanfaatkan kapal tanker yang beroperasi tanpa mengaktifkan sistem identifikasi otomatis (AIS).

Sementara itu, laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat berkurang sekitar 600 ribu barel pada pekan lalu. Apabila data tersebut dikonfirmasi pemerintah AS, maka penurunan stok akan menjadi yang ke-11 dalam 12 pekan terakhir, kondisi yang turut menopang kenaikan harga minyak dunia.

Para pelaku pasar kini masih menantikan perkembangan situasi di Timur Tengah serta data resmi cadangan minyak Amerika Serikat yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan.(red/lis)

© Copyright 2022 - JURNAL Polisi News