Jurnal Polisi NEWS, Kota Batu – Keluhan wisatawan mengenai oleh-oleh keripik buah khas Kota Batu yang dinilai memiliki isi tidak sebanding dengan ukuran kemasan kembali mencuat. Fenomena bungkus besar dengan jumlah produk yang relatif sedikit tersebut mendapat perhatian karena dianggap tidak hanya berkaitan dengan strategi penjualan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan wisatawan terhadap Kota Batu sebagai salah satu destinasi wisata unggulan.
Istilah “kemasan angin” sering digunakan untuk menggambarkan produk makanan ringan yang menggunakan kemasan berukuran besar dan tampak menggembung, tetapi setelah dibuka ternyata volume produk di dalamnya jauh lebih sedikit dibandingkan perkiraan konsumen.
Bagi sebagian pembeli, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa kecewa karena tampilan luar kemasan memberikan kesan bahwa isi produk lebih banyak. Apalagi, oleh-oleh menjadi salah satu bagian penting dalam pengalaman wisata, sehingga kepuasan konsumen terhadap produk lokal turut memengaruhi penilaian mereka terhadap suatu daerah.
Bukan Sekadar Ruang Kosong dalam Kemasan
Secara teknis, keberadaan ruang kosong dalam kemasan keripik sebenarnya memiliki fungsi tertentu. Produsen umumnya menggunakan gas nitrogen sebagai pelindung agar makanan tidak mudah hancur selama proses pengiriman maupun penyimpanan.
Selain menjaga bentuk keripik tetap utuh, nitrogen juga membantu mengurangi kadar oksigen di dalam kemasan. Hal tersebut dapat memperlambat proses oksidasi sehingga produk tetap renyah, memiliki kualitas rasa yang lebih baik, dan dapat bertahan lebih lama.
Namun, persoalan muncul ketika ukuran kemasan dibuat jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan teknis perlindungan produk. Jika ruang kosong dalam kemasan sengaja diperbesar untuk menciptakan kesan jumlah isi yang lebih banyak, praktik tersebut dapat dinilai sebagai bentuk pemasaran yang menyesatkan.
Bisa Berdampak pada Citra Kota Wisata
Pengamat pariwisata dari Universitas Brawijaya, Faidlal Rahman, menilai persoalan tersebut memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar transaksi antara pembeli dan penjual.
Menurut Faid, produk oleh-oleh merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman wisata. Ketika wisatawan merasa kecewa setelah membeli produk lokal, dampaknya tidak berhenti pada satu toko, tetapi dapat memengaruhi persepsi terhadap destinasi secara keseluruhan.
"Kalau wisatawan merasa tertipu saat membeli oleh-oleh, yang terdampak bukan hanya satu pelaku usaha, tetapi juga citra Kota Batu sebagai tujuan wisata yang dipercaya," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemerintah daerah telah mengeluarkan berbagai upaya dan anggaran besar untuk mempromosikan sektor pariwisata. Upaya promosi tersebut dapat kehilangan dampaknya apabila pengalaman wisatawan tidak sesuai dengan harapan.
Menurutnya, reputasi sebuah destinasi membutuhkan waktu panjang untuk dibangun, tetapi dapat menurun dengan cepat ketika muncul banyak keluhan di media sosial.
Kritik terhadap Praktik Pemasaran yang Menyesatkan
Faid menyebut persoalan kemasan besar dengan isi minim bukan merupakan isu baru. Keluhan serupa terus muncul dari waktu ke waktu sehingga perlu dilihat sebagai persoalan tata kelola, bukan hanya kesalahan individu pedagang.
Ia menyebut penggunaan kemasan yang secara sengaja menciptakan persepsi keliru mengenai jumlah produk dapat dikategorikan sebagai misleading marketing atau pemasaran yang menyesatkan.
Menurutnya, apabila masalah tersebut terus berulang tanpa adanya solusi sistematis, maka diperlukan evaluasi terhadap pengawasan dan pembinaan dalam ekosistem usaha pariwisata.
"Jika masalah yang sama terus muncul setiap tahun, berarti persoalannya bukan lagi sekadar perilaku satu atau dua pedagang, tetapi ada persoalan dalam sistem pengelolaan destinasi," jelasnya.
Media Sosial Mempercepat Penyebaran Persepsi Wisatawan
Di era digital, pengalaman wisatawan memiliki pengaruh besar terhadap citra sebuah daerah. Ulasan melalui media sosial, seperti konten kreator, platform ulasan perjalanan, maupun komentar pengguna, sering kali menjadi pertimbangan wisatawan lain sebelum berkunjung.
Faid mengingatkan bahwa satu pengalaman buruk dapat menyebar dengan cepat dan membentuk persepsi negatif terhadap produk lokal maupun destinasi wisata.
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya kehilangan pembeli keripik buah, tetapi risiko menurunnya kepercayaan terhadap berbagai sektor wisata lain, mulai dari penginapan, restoran, hingga pelaku UMKM yang menjalankan usaha secara jujur.
"Ketika muncul anggapan bahwa oleh-oleh dari Batu mengecewakan, persepsi tersebut dapat terus diteruskan oleh wisatawan berikutnya. Kehilangan kepercayaan jauh lebih mahal dibandingkan kehilangan satu transaksi," katanya.
Pemerintah Diminta Perkuat Pengawasan
Faid menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak dapat hanya bertindak setelah sebuah persoalan menjadi viral. Menurutnya, diperlukan sistem pengawasan yang lebih terencana agar kualitas produk wisata tetap terjaga.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain pembinaan pelaku usaha, pemeriksaan produk secara berkala, penyusunan standar kemasan, pemberian edukasi mengenai perlindungan konsumen, hingga penyediaan mekanisme pengaduan yang mudah diakses masyarakat.
Ia juga meminta agar pemerintah tidak hanya memberikan teguran kepada pedagang, tetapi ikut memastikan adanya standar yang jelas mengenai informasi produk, ukuran kemasan, dan jumlah isi.
"Kalau respons baru dilakukan setelah ramai di media sosial, berarti yang berjalan bukan sistem pengawasan, melainkan tekanan publik," ujarnya.
Kepercayaan Wisatawan Menjadi Modal Utama
Menurut Faid, persaingan destinasi wisata saat ini tidak hanya ditentukan oleh banyaknya promosi, tetapi juga pengalaman nyata yang dirasakan pengunjung.
Ia mengingatkan bahwa praktik bisnis yang mengutamakan keuntungan sesaat dapat memberikan dampak panjang terhadap reputasi daerah.
"Pariwisata tidak dibangun hanya melalui promosi besar-besaran, tetapi melalui kepercayaan wisatawan. Ketika wisatawan merasa kecewa, mereka mungkin tetap datang ke Kota Batu, tetapi belum tentu kembali membeli produk lokal. Bahkan pengalaman buruk tersebut dapat mereka bagikan kepada banyak orang melalui media sosial," pungkasnya.
Ke depan, kualitas dan transparansi produk oleh-oleh menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan pariwisata Kota Batu tetap berjalan beriringan dengan kepercayaan masyarakat dan wisatawan.(red/lis)


Social Header